2.165 Hektar Sawah di Pandeglang Rusak Akibat Terendam Banjir

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE

Cuaca buruk yang melanda Kabupaten Pandeglang selama beberapa pekan terakhir menyebabkan sejumlah sungai meluap dan berdampak luas terhadap sektor pertanian. Ribuan hektar sawah milik petani terendam banjir, mengakibatkan kerugian yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Hujan deras yang terjadi secara terus-menerus membuat air sungai meluap dan menggenangi lahan persawahan di berbagai wilayah. Ketinggian air bervariasi, mulai dari 50 sentimeter hingga mencapai satu meter, sehingga merusak tanaman padi yang sebagian besar siap panen.

Bacaan Lainnya

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pandeglang, sedikitnya 2.165 hektar sawah terdampak banjir yang tersebar di 13 kecamatan. Dari jumlah tersebut, 21 hektar sawah mengalami puso atau gagal panen total.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pandeglang, Uun Junandar, mengatakan pihaknya telah melakukan pendataan terhadap kelompok tani yang terdampak banjir. Selain itu, dinas juga telah mengusulkan bantuan benih ke Pemerintah Provinsi Banten guna membantu petani melakukan tanam ulang.

“Kami sudah mengidentifikasi lahan dan petani terdampak, serta mengajukan bantuan benih ke provinsi agar petani bisa segera kembali menanam,” katanya, Rabu (21/01/2026).

Hal ini perlu adanya sentuhan dari pemerintah, sebagai upaya membantu petani yang mengalami kerugian, khususnya lahan sawah yang mengalami gagal panen.

“Untuk pembagian teknisnya kita akan bagikan berdasarkan luasan lahan yang terendam banjir dari para petani. Bantuan benih itu 25 kg per hektar, khususnya yang mengalami puso,” katanya.

Uun menyebut, akibat adanya banjir yang menggenangi lahan persawahan, cadangan gabah di Kabupaten Pandeglang hilang.

“Kalau kita hitung rata-rata ton per hektare gabah, untuk yang mengalami puso saja, artinya satu hektar 6 ton gabah, 126 ton gabah ini terjadi kegagalan,” tegasnya.

Kerugian yang dialami para petani akibat banjir diperkirakan mencapai 126 ton gabah. Jika mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah yang saat ini ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram dan menjadi acuan penerimaan Bulog, maka total kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp786 juta. Kerugian tersebut dialami petani yang tersebar di 13 kecamatan yang terdampak banjir.

Sementara itu, salah seorang petani, Udi Mashudi, mengaku mengalami kerugian hingga Rp20 juta dari satu hektar sawah miliknya akibat gagal panen. Ia menyebut tanaman padi membusuk dan mati terendam air, sehingga harus menanam ulang dan kembali mengeluarkan biaya produksi.

“Padi saya rusak semua, terendam banjir. Mau tidak mau harus tanam ulang, dan itu butuh biaya lagi,” kata Udi.

Ia menambahkan, kerugian yang dialami petani dengan lahan lebih luas bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah, terutama bagi mereka yang memiliki puluhan hektar sawah.

Para petani berharap pemerintah segera melakukan normalisasi sungai yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi, yang dinilai menjadi salah satu penyebab banjir. Selain itu, mereka juga meminta adanya bantuan dan perhatian serius dari pemerintah daerah untuk meringankan beban para petani yang terdampak bencana banjir ini.

Pos terkait