Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pandeglang menyebut minimnya jumlah peserta didik menjadi salah satu kendala dalam penentuan prioritas pembangunan SDN Padahayu 2, Kecamatan Cikedal, yang mengalami kerusakan pada sejumlah ruang kelas.
Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Bidang Pembinaan Sekolah Dasar (SD) pada Disdikpora Pandeglang, Agung Kusuma Bakti, membenarkan kondisi kerusakan di SDN 2 Padahayu. Dia mengatakan terdapat tiga bangunan ruang kelas yang mengalami keretakan pada bagian dinding.
“Direvitalisasi sudah kami cek dan sudah mengunjungi ke SDN 2 Padahayu. Memang yang diberitakan selama ini benar, gedung itu ada tiga yang retak. Sudah kita usulkan direvitalisasi di awal,” kata Agung, Kamis (23/7/2026).
Meski telah diusulkan, Agung mengatakan SDN 2 Padahayu menghadapi tantangan karena program revitalisasi memprioritaskan sekolah dengan jumlah murid minimal 100 siswa. Sementara jumlah peserta didik di SDN 2 Padahayu saat ini kurang dari 57 orang.
“Program revitalisasi itu memprioritaskan, salah satu persyaratannya jumlah murid minimal 100. Tapi bukan berarti tidak direalisasikan, nanti prosesnya sambil berjalan. Mungkin diprioritaskan murid yang 100 dulu,” ujarnya.
Agung menjelaskan, lokasi SDN 2 Padahayu yang berada cukup jauh dari permukiman menjadi salah satu faktor sekolah tersebut kurang terpantau. Namun, dia menegaskan kondisi itu bukan berarti pihaknya mengabaikan perbaikan sarana dan prasarana sekolah.
“Sekolahnya memang di ujung, jauh dari permukiman, jumlah muridnya sedikit sehingga kurang terpantau. Bukan tidak dilakukan pembenahan. Tapi dari dana BOS juga tidak memungkinkan karena jumlah peserta didiknya sedikit,” jelasnya.
Jika SDN 2 Padahayu belum masuk dalam skala prioritas program revitalisasi, Disdikpora Pandeglang akan berupaya mencari alternatif sumber anggaran melalui program Specific Grant (SG).
Perencanaan& Pengelolaan Keuangan
“Kita coba dorong ke SG. Di SG itu didorong untuk rehabilitasi minimal. Yang berat itu pembangunan TPT di belakang ruang kelas. Di anggaran perubahan coba kita petakan untuk ditangani di luar revitalisasi,” ucapnya.
Agung menambahkan, kebutuhan anggaran untuk rehabilitasi satu ruang kelas dengan tingkat kerusakan sedang diperkirakan mencapai Rp130 juta hingga Rp140 juta.
“Itu bisa sampai Rp130 juta sampai Rp140 juta untuk satu ruang yang tingkat kerusakannya sedang,” tuturnya






