Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, turut dirasakan masyarakat di Kecamatan Cikeusik. Hampir empat bulan kondisi kekeringan berlangsung dan berdampak terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus mencari sumber air dari lokasi yang cukup jauh. Bahkan, di tengah keterbatasan sumber mata air, sebagian masyarakat terpaksa menggunakan air dengan kondisi yang kurang layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah satu wilayah yang merasakan dampak cukup serius adalah Kampung Cikeusik Kaler, Desa Cikeusik, Kecamatan Cikeusik. Kondisi kekeringan tidak hanya menyulitkan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Pada Jumat, 25 September 2026, Koramil 0116/Cikeusik, Kodim 0601/Pandeglang, kembali menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 8.000 liter kepada masyarakat Kampung Cikeusik Kaler.
Penyaluran air bersih tersebut merupakan bagian dari upaya membantu masyarakat yang terdampak kekeringan sekaligus hasil koordinasi Koramil 0116/Cikeusik dengan pemerintah setempat serta sejumlah pihak yang memiliki kepedulian terhadap kondisi masyarakat.
Babinsa Koramil 0116/Cikeusik, Sertu Eri Piatna, mengatakan bahwa dampak kemarau dirasakan hampir di seluruh wilayah Kecamatan Cikeusik.
“Menurut kondisi yang kami lihat di lapangan, dari 14 desa yang ada di Kecamatan Cikeusik, semuanya merasakan dampak kekurangan air bersih akibat kemarau. Namun Alhamdulillah hari ini kami kembali bisa menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 8.000 liter kepada masyarakat,” ujar Sertu Eri.
Ia menjelaskan, distribusi air bersih tersebut bukan merupakan kegiatan yang baru dilakukan. Selama kurang lebih satu bulan terakhir, dirinya bersama berbagai pihak terus berupaya menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah pelosok kampung yang mengalami kesulitan mendapatkan air.
“Ini bukan kali pertama. Alhamdulillah selama kurang lebih satu bulan, baik siang maupun malam, kami terus berusaha menyalurkan bantuan air bersih ke pelosok-pelosok kampung yang berada di wilayah Kecamatan Cikeusik,” katanya.
Menurutnya, kondisi masyarakat saat ini cukup memprihatinkan. Selain sumber mata air yang semakin sulit diperoleh, masyarakat dengan kondisi ekonomi terbatas juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan air.
“Memang kondisi saat ini sangat miris. Sumber mata air semakin sulit didapat. Di sisi lain, masyarakat yang kondisi ekonominya kurang baik juga harus membeli air isi ulang dengan harga sekitar Rp5.000. Bagi sebagian masyarakat, biaya tersebut tentu cukup membebani,” ujar Eri.
Keterbatasan air bersih juga menjadi perhatian karena masyarakat terpaksa menggunakan sumber air yang kualitasnya kurang baik. Kondisi tersebut, menurut keterangan warga yang disampaikan di lapangan, turut dirasakan oleh sejumlah warga, termasuk anak-anak, yang mengalami keluhan pada kulit.
Bagi masyarakat, air bukan hanya dibutuhkan untuk minum, tetapi juga untuk memasak, mandi, mencuci, beribadah dan berbagai kebutuhan dasar lainnya. Karena itu, ketika sumber air mengering, aktivitas kehidupan sehari-hari ikut terganggu.
Sertu Eri menegaskan bahwa penanganan krisis air bersih membutuhkan kepedulian dan kerja sama berbagai pihak. Menurutnya, pemerintah, TNI-Polri, pemerintah desa, komunitas, dunia usaha, para donatur serta masyarakat dapat mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.
“Saya selaku Babinsa mengajak instansi terkait, para donatur dan dermawan untuk terus membantu masyarakat yang membutuhkan air bersih, baik di Kecamatan Cikeusik maupun wilayah kecamatan lainnya di Kabupaten Pandeglang yang mengalami dampak kekeringan,” tuturnya.
Ia berharap bantuan air bersih dapat terus berlanjut selama masyarakat masih menghadapi kondisi kekeringan. Menurutnya, persoalan air bersih tidak cukup hanya dilihat sebagai persoalan teknis, tetapi juga menyangkut kepedulian sosial terhadap masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.
Kegiatan penyaluran air bersih tersebut sekaligus menjadi bentuk kehadiran aparat kewilayahan di tengah masyarakat dalam menghadapi dampak kemarau panjang.
Di tengah sumber air yang semakin terbatas, satu tangki air bersih bukan hanya berarti ribuan liter air, tetapi juga menjadi bantuan nyata bagi warga untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Koramil 0116/Cikeusik bersama berbagai pihak pun terus berupaya melakukan koordinasi dan membuka ruang bagi masyarakat, instansi, komunitas maupun para donatur yang ingin ikut membantu penanganan kebutuhan air bersih di wilayah terdampak.
Krisis air bersih akibat kemarau panjang masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian bersama. Selama masyarakat masih kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan dasar, kepedulian dan aksi nyata dari berbagai pihak menjadi bagian penting dalam meringankan beban warga.





