Menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak menghalangi Mustofa, salah seorang ASN di bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Sekretariat Daerah Kabupaten Pandeglang, untuk menjalankan usaha sampingan secara mandiri.
Setiap musim duren lokal Pandeglang tiba, Mustofa selalu memanfaatkan momen tersebut untuk berjualan duren. Uniknya, ia tidak membuka lapak khusus. Penjualannya dilakukan secara sederhana melalui status WhatsApp.
Meski hanya mengandalkan media sosial sederhana, usaha yang telah dijalankannya selama sembilan tahun itu ternyata memiliki pelanggan tetap. Bahkan, sejumlah pelanggan rela menunggu setiap kali Mustofa mulai menawarkan duren dagangannya.
Bagi Mustofa, rasa menjadi prioritas utama, bukan sekadar ukuran buah.
“Bagi saya yang penting rasa. Ukuran nomor dua. Saya ingin pelanggan mendapatkan duren yang enak dan sesuai dengan harapan mereka,” ujar Mustofa.
Pelanggan duren Mustofa pun tidak hanya berasal dari Kabupaten Pandeglang. Penikmat durennya datang dari berbagai daerah, mulai dari Serang, Tangerang, Jakarta hingga sejumlah wilayah di Pandeglang.
Menariknya, para pelanggan rela datang langsung ke rumah Mustofa untuk mengambil pesanan. Namun, jika memiliki waktu luang, Mustofa juga bersedia mengantarkan pesanan atau melakukan delivery kepada pelanggan.
Modal Utama Kepercayaan
Selama sembilan tahun berjualan, Mustofa mengaku tidak memiliki kebun duren sendiri. Ia juga tidak pernah melakukan borongan pohon duren.
Bahkan, modal yang dimilikinya setiap musim duren terkadang sangat terbatas. Namun, berkat kepercayaan yang telah terbangun dengan para tengkulak, Mustofa tetap bisa menjalankan usahanya.
Sistemnya cukup sederhana. Mustofa mengambil duren dari tengkulak, kemudian setelah dagangannya habis terjual, hasil penjualan langsung disetorkan.
“Kadang modal saya sedikit, bahkan pernah tidak punya modal. Tapi alhamdulillah, karena sudah dipercaya, saya bisa mengambil barang terlebih dahulu. Setelah habis, langsung saya setor,” ungkapnya.
Kepercayaan tersebut tidak datang begitu saja. Selama berjualan, Mustofa berusaha menjaga kualitas duren yang dijualnya agar pelanggan tidak kecewa.
Tetap Utamakan Tugas sebagai ASN
Meski aktif berjualan duren, Mustofa memastikan aktivitas tersebut tidak mengganggu tugasnya sebagai ASN.
Pada jam kerja, ia tetap menjalankan rutinitas kedinasan seperti biasa. Aktivitas berjualan dilakukan di luar waktu kedinasan dengan membagi waktu sebaik mungkin.
Bahkan, demi mendapatkan duren berkualitas, Mustofa terkadang harus mengambil pasokan hingga tengah malam langsung dari kebun.
Mustofa juga tidak merasa malu dengan profesinya sebagai ASN meskipun harus berjualan duren.
Ia bahkan kerap mendapat panggilan “Mamang Duren” dari pelanggan maupun orang-orang yang mengenalnya.
“Bagi saya tidak ada yang perlu malu. Selama pekerjaan sebagai ASN tetap dijalankan dengan baik dan usaha yang dilakukan halal, kenapa harus malu,” katanya.
Salah seorang tengkulak duren, Anen, mengaku telah lama mempercayai Mustofa. Setiap musim duren lokal tiba, Anen selalu memberikan pasokan duren untuk dijual kembali oleh Mustofa.
“Saya setiap musim duren lokal pasti kasih duren ke Mustofa. Saya sudah percaya karena sistemnya ambil barang, setelah habis langsung setor,” ujar Anen.
Menurut Anen, Mustofa juga termasuk pedagang yang sangat memperhatikan kualitas rasa.
“Dia selalu menjaga kualitas karena tidak ingin mengecewakan pelanggan. Saya sangat salut, seorang ASN mau berjualan duren di tengah kesibukannya dan bisa membagi waktu dengan baik,” katanya.
Anen menambahkan, Mustofa bahkan tidak jarang datang ke kebun pada malam hari untuk mengambil duren.
Pelanggan Rela Datang dari Selatan Pandeglang
Kesetiaan pelanggan menjadi salah satu bukti bahwa kualitas duren Mustofa mendapat tempat tersendiri bagi para penikmat duren.
Salah seorang pelanggan tetap, Ayi, mengaku rela datang dari wilayah selatan Pandeglang setiap musim duren tiba.
“Saya jauh-jauh dari selatan, rela datang ke rumah Mustofa untuk membeli duren. Saya sudah percaya karena kualitas rasanya selalu dijaga dan bisa memuaskan pembeli,” tutur Ayi.
Kisah Mustofa menjadi contoh bahwa menjadi ASN bukan berarti berhenti untuk produktif dan berusaha. Dengan tetap mengutamakan tugas kedinasan, ia mampu memanfaatkan peluang ekonomi musiman melalui usaha sederhana.
Selama sembilan tahun, dari hanya menawarkan duren lewat status WhatsApp hingga memiliki pelanggan dari berbagai daerah, Mustofa membangun usahanya dengan tiga modal utama: rasa, kejujuran dan kepercayaan.
Bagi para pelanggan, Mustofa mungkin hanya dikenal sebagai “Mamang Duren”. Namun bagi dirinya, berjualan duren bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan menjaga kepercayaan pelanggan dan memperkenalkan kualitas duren lokal Pandeglang.
9 Tahun Jualan Duren, ASN Pandeglang Ini Dijuluki “Mamang Duren”






