Kisah Pilu Keluarga Miskin di Pandeglang, Tinggal di Rumah Nyaris Roboh dan Selalu Kebanjiran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE

Kisah pilu datang dari Kampung Caringin Lor, Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. Di sebuah rumah bilik bambu yang rapuh dan nyaris roboh, Yeni Farida (40) bersama suami dan tiga anaknya bertahan hidup dalam kondisi serba kekurangan.

Rumah yang telah ditempati selama kurang lebih lima tahun itu kini kondisinya memprihatinkan. Atap yang sebagian menggunakan genteng dan sebagian lagi rumbia sudah banyak yang ambruk. Saat hujan turun, air masuk dari berbagai sisi hingga membasahi hampir seluruh bagian rumah.

Bacaan Lainnya

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE

Akibatnya, keluarga tersebut harus berpindah-pindah tempat untuk menghindari tetesan air. Bahkan, ketika hujan deras turun pada malam hari, mereka terpaksa mengungsi sementara ke rumah tetangga.

“Tinggal di sini sejak anak saya umur tiga tahun, sekarang sudah sekitar lima tahun. Rumah rusak sudah setahun. Gimana mau memperbaiki, suami kerjanya juga begitu, buat berobat si Dede saja sudah berat,” kata Farida saat ditemui di rumahnya, Jumat (31/07/2026).

Di balik kondisi rumah yang memprihatinkan itu, beban keluarga semakin berat karena anak ketiganya, Adibah (7), menderita anemia berat. Setiap bulan, Adibah harus menjalani transfusi darah rutin di rumah sakit di Kota Serang agar kondisinya tetap stabil.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sang suami bekerja serabutan sebagai pencari rambutan, sementara Farida membantu ekonomi keluarga dengan mencuci piring di sebuah rumah makan yang berada tidak jauh dari rumah mereka.

Meski hidup dalam kondisi miskin, Farida mengaku keluarganya belum pernah sekalipun menerima bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), maupun Bantuan Langsung Tunai (BLT).

“Tidak pernah dapat bantuan, PKH, BLT, tidak pernah sekalipun dapat,” ungkapnya.

Farida hanya berharap ada uluran tangan dari para dermawan maupun perhatian dari pemerintah agar anaknya dapat terus menjalani pengobatan dan keluarganya memiliki rumah yang lebih layak.

“Harapan saya semoga ada yang peduli kepada saya dan anak saya. Rumah saya mau roboh, anak saya transfusi darah setiap bulan. Semoga ada yang membantu,” harapnya.

Sementara itu, Kasi Kesejahteraan Desa Caringin, Fathurrahman, membenarkan kondisi keluarga tersebut.

Ia mengatakan keluarga Farida memang belum menjadi penerima PKH maupun BPNT, meski telah memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan.

Menurutnya, berdasarkan data sosial, keluarga tersebut berada pada kategori desil lima, sehingga belum masuk dalam daftar prioritas penerima bantuan sosial.

“Memang kemarin ada laporan bahwa rumahnya hampir ambruk. Namun kendalanya, rumah itu berdiri di atas tanah milik warga asal Serang sehingga status lahannya masih numpang,” jelasnya.

Ia menambahkan, saat ini penerima bantuan PKH maupun BPNT ditentukan berdasarkan data desil sosial. Warga yang berada pada desil bawah akan otomatis menjadi prioritas penerima bantuan apabila memenuhi persyaratan.

Kondisi keluarga Yeni Farida menjadi potret nyata masih adanya warga yang hidup dalam keterbatasan, dengan rumah tidak layak huni dan anak yang membutuhkan pengobatan rutin.

Kisah ini diharapkan dapat menggugah kepedulian berbagai pihak untuk membantu meringankan beban keluarga tersebut.

Pos terkait